Maraknya pembangunan ruko atau rumah toko dan rukan atau rumah kantor di kota-kota besar, salah satunya adalah Kota Medan, membuat orang bertanya-tanya mengapa tipe bangunan seperti itu yang paling banyak diminati dan dibangun, sehingga jasa desain ruko atau profesi arsitek ruko semakin dicari oleh masyarakat.
Tidak bisa dimungkiri, pembangunan rumah toko atau ruko kian marak terlihat di hampir setiap sudut Kota Medan. Judulnya beragam, ada yang dijadikan sebagai pusat bisnis dan ada juga yang sengaja dibangun untuk hunian. Bahkan saat ini tidak lengkap rasanya kalau sebuah perumahan atau komplek dibangun jika tanpa ruko. Kondisi seperti ini membuat Medan menjadi kota toko.
Banyak para developer atau para pemilik rumah mulai melirik ke arah pengembangan pembangunan ruko. Namun di sisi lain, hal ini juga menimbulkan keprihatinan bagi para desainer Kota Medan, salah satunya adalah Victor M. Sinaga, IAI selaku Principal Architect PT. Adara Citra Parama.
Kata dia, banyaknya pembangunan ruko ini bisa memunculkan peluang sekaligus problem. Peluang yang muncul yaitu tersedianya sarana tempat usaha ekonomi real atau dagang, sehingga memudahkan wirausahawan baru untuk memilih tempat dagang sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya.
Adapun problematikanya, dari maraknya pembangunan ruko tidak kalah "menjanjikan" dibandingkan dengan peluang yang dimunculkannya, di mana pembangunan ruko ini tidak diikuti oleh keseimbangan antara penjual dan pembeli. Penjual makin bertambah banyak, namun kondisi sebaliknya terjadi pada pembeli yang kian menurun.
"Sekarang ini ruko memang sudah menjadi tren, karena selain sebagai mata pencaharian masyarakat untuk berbisnis juga bisa dijadikan rumah tinggal. Tapi secara estetika, pembangunan ruko yang tidak ditata dan di atur sangat merusak lingkungan juga keindahan kota," katanya kepada MedanBisnis beberapa waktu lalu saat ditemui di tempat kerjanya, Jalan Timor No. 147 (Center Point Area), Medan.
Itu sebabnya dia mengharapkan kepada pemerintah untuk mengatur atau membuat peraturan pembangunan rumah ruko ini. Soalnya, lanjutnya, ruko disinyalir sebagai salah satu penyebab terjadinya banjir. Ini dikarenakan desain bangunannya yang tidak memiliki atau menyediakan wadah resapan air.
Tidak hanya itu, bangunan ruko ini juga identik dibangun pada lahan yang tinggi. Penimbunan pada pondasi bangunan membuat tanah di sekitarnya menjadi lebih rendah, sehingga air akan mengalir ke tempat yang lebih rendah sebagaimana sifatnya, sementara daya serap air semakin berkurang. Alhasil banjir pun terjadi.
"Ini terjadi karena terhalangnya tempat pembuangan air, sebab telah banyaknya bangunan ruko di sekitar pemukiman. Dengan banyaknya bangunan ruko yang berdiri membuat aliran air tehambat, karena tempat resapan air tidak ada atau sudah berkurang," jelasnya.
Malah, tambahnya, sekarang ini masih banyak pengembang terutama bangunan ruko yang tidak mengeluarkan Izin Mendirikan Bangunan (IMB), dan sebagian besar pengembang yang membangun ruko seakan tidak peduli dengan sumur resapan.
Ironisnya, pengembang tersebut memang sengaja tidak membuatkan sumur resapan, baik di belakang atau di depan ruko mereka, hanya demi estetika bangunan, efisiensi lahan, juga irit biaya. Hal ini tentunya adalah kesalahan dari aparat terkait, karena tidak mengawasi pengembang secara ketat ketika membangun ruko.
"Kita berharap, dan seharusnya dalam hal ini pemrintah harus membatasi pembangunan ruko. Sebab dampaknya sangat besar terhadap lingkungan dan estetika keindahan kota. Apalagi secara desain, bangunan ruko bisa dibilang tidak layak huni karena sirkulasi udaranya tidak memadai," kata Victor M. Sinaga lagi.
Bahkan, tuturnya, sering orang salah mengartikan jika ruko adalah bangunan minimalis, atau malah ada brosur perumahan yang menyebutkan bangunan rukonya berkonsep minimalis. Padahal bangunan minimalis atau bangunan berkonsep minimalis bukanlah seperti yang digambarkan pada bangunan ruko. Minimalis adalah minimalis, ruko ya ruko.
"Mungkin yang dibilang minimalis itu tipenya, karena ukuran ruko itu kan memang terbilang minimalis atau kecil. Tapi kalau dibilang ruko itu konsepnya minimalis, saya bilang bukan," terangnya.
Meskipun begitu, ucapnya, tipe bangunan ruko atau rukun sebenarnya merupakan jalan keluar dari keterbatasan lahan yang ada saat ini, dimana bangunan ruko merupakan gabungan dari dua pemenuhan kebutuhan hidup, yakni mencari nafkah dengan berdagang dan kebutuhan untuk tempat tinggal.
Denah umumnya empat persegi panjang dengan sisi lebar sebagai bagian muka bangunan. Karena bentuknya seperti itu, maka pengaturan ruang serta sirkulasi dari ruko ataupun desain rukun berpola linier dan sangat terbatas. Begitu pun, bangunan ini mampu memuat beragam fungsi, sehingga sekarang ini banyak diminati.
Menurut Victor M. Sinaga, prinsip dari model ruko sekarang ini masih menerapkan aturan kuno seperti zaman dulu. Pola desainnya memanjang ke belakang, terdiri dari 2 sampai 4 lantai. Hanya saja saat ini fungsi pada tiap lantainya sudah banyak dihilangkan.
Sekarang ini ruko atau rukun hanya menampung kegiatan komersial saja. Lantai atasnya juga telah berubah fungsi, ada yang difungsikan sebagai tempat berjualan, tempat kerja, sebagai gudang, kos-kosan, dan lain-lainnya.
sumber : www.medanbisnisdaily.com, 09 Feb 2014






